Kamis, 06 Desember 2012

Skripsi PENGARUH SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PELAYANAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SAMBOJA


BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah

Hubungan antara ekonomi dan pertumbuhan ekonomi sudah menjadi perhatian berbagai kalangan sejak beberapa dasawarsa terakhir. Hal ini sesuai dengan tujuan pembangunan nasional, yaitu mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Dalam usaha pencapaian tujuan tersebut pembangunan diarahkan pada pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Meraih keunggulan di seluruh aspek operasi Farmasi Rumah Sakit merupakan persyaratan utama dalam bersaing di bidang jasa pelayanan dan produksi kemasan berbagai obat-obatan di Indonesia yang baru mulai memastikan bahwa setiap kegiatan operasinya berorientasi pada kualitas jasa dan produk yang dihasilkan. Farmasi mempunyai komitmen untuk memenuhi harapan pelanggan/pasien dan selalu memperbaiki proses yang menghasilkan jasa dan produk secara baik dan berkelanjutan.
            Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Samboja Kalimantan Timur adalah salah satu Rumah Sakit Umum yang berdiri pada tahun 2005 dan di resmikan tahun 2006.
Untuk mencapai tujuan SDM dalam keunggulan, RSUD Samboja berkeinginan untuk memperkuat daya saing, nilai, kebijakan, prinsip, dan pedoman yang dibuat semata–mata untuk membangun pondasi yang kuat guna menopang kinerja dengan pendekatan pragmatis di dalam kerangka manajemen untuk meningkatkan pemberdayaan dan kreativitas tanpa berkompromi dengan praktek manajemen yang baik, sehingga sangat responsif terhadap kebutuhan pelanggan / pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruhnya Sumber Daya Manusia terhadap pelayanan di Instalasi Farmasi RSUD Samboja.

1.2. Batasan Masalah
            Dalam skripsi ini, untuk mempermudah melakukan analisis maka penulis membatasi konteks permasalahan agar tidak keluar dari ruang lingkup study pustaka dan penelitian. Untuk Mengetahui pengaruh SDM di Instalasi Farmasi RSUD Samboja, maka megadakan perbandingan antar kepuasan pelanggan / pasien 1 (satu) dengan pelanggan lainya. Pegawai Farmasi mmbuat quisioner, membuat catatan prosedur terkendali dan catatan intruksi terkendali yang berhubungan langsung dengan jasa pelayanan.

1.3. Rumusan Masalah Penelitian
Dari latar belakang masalah diatas yang telah dikemukakan maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
  1. Bagaimana pengaruh SDM terhadap pelayanan/manajemen di instalasi farmasi RSUD Samboja?
  2. Adakah hubungan antara kualitas pelayanan dengan tingkat kepuasan pasien di instalasi farmasi RSUD Samboja?
  3. Bagaimana tata kerja dan peran pegawai di instalasi farmasi RSUD Samboja?
  4. Kegiatan apa saja yang di lakukan oleh pegawai di instalasi Farmasi RSUD Samboja?

1.4. Tujuan Penelitian
  1. Memberi masukan kepada manajemen RSUD Samboja tentang faktor pelayanan farmasi yang memprediksi melyani pelanggan. Dengan demikian dapat disusun program peningkatan pelayanan farmasi sesuai karakteristik pasien yang memenuhi harapan untuk terjalinya hubungan baik antar intern maupun ekstern,
  2. Bagi peneliti, penelitian ini sangat berguna untuk menambah wawasan dan mengembangkan pengetahuan manajemen yang didapat selama mengikuti pendidikan dan menerapkannya di tempat kerja.
  3. Bagi Program Akademik, sebagai masukan bagi peneliti berikutnya tentang Pengaruh SDM terhadap pelayanan di Instalasi farmasi yang memprediksi keputusan melayani dan pendekatan persepsi pasien/pelanggan
  4. Mengetahui tingkat kesesuaian antara harapan pasien terhadap kinerja pelayanan di instalasi farmasi RSUD Samboja
  5. Mengetahui hubungan antara kualitas pelayanan terhadap tingkat kepuasaan pasien di instalasi farmasi RSUD Samboja
  6. Mengetahui bagaimana pengaruh SDM terhadap semua yang ada hubunganya dengan kinerja baik intern maupun ekstern



1.5. Metode Penelitia
Untuk melangsungkan kegiatan pembuatan skripsi penulis menggunakan beberapa metode gabungan antara metode study pustaka dengan metode lapangan.
Metode study pustaka berarti data-data akan di peroleh dari buku-buku dan/atau jurnal, sedangkan study lapangan data-data yang akan di dapat harus melaui penelitian terlebih dahulu.

1.6. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. .
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
Penjelasan teori-teori yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini, dan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. Dan hipotesis merupakan dugaan sementara dari sesuatu yang akan di teliti.
BAB III METODE PENELITIAN
Berisikan tentang data-data penelitian, sumber data dan metode perhitungan serta model pengujian yang akan dilakukan terhadap data-data yang diperoleh.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Berisikan pengujian atas data-data yang diperoleh serta analisis dan pembahasan lebih lanjut
melalui model yang telah ditentukan.
BAB V SIMPULAN DAN IMPLIKASI
Berisi tentang simpulan dan implikasi dari penelitian ini setelah melakukan analisis pada BAB IV.





































BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Farmasi rumah sakit adalah departemen atau unit atau bagian di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yangberlaku dan kompeten secara profesional, tempat, atau fasilitas penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri atas pelayanan paripurna, mencakup perencanaan; pengadaan; produksi; penyimpanan perbekalan kesehatan/ sediaan farmasi; dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat tinggal dan rawat jalan; pengendalian mutu; dan pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit; pelayanan farmasi klinik umum dan spesialis, mencakup pelayanan langsung pada penderita dan pelayanan klinik yang merupakan program rumah sakit secara keseluruhan (Siregar, 2003). Menurut Siregar (2003), tujuan instalasi farmasi rumah sakit, antara lain:
  1. Memberikan manfaat kepada penderita, rumah sakit, sejawat profesi kesehatan, dan kepada profesi farmasi oleh apoteker rumah sakit yang kompeten dan memenuhi syarat.
  2. Menjamin praktek profesional yang bermutu tinggi melalui penetapan dan pemeliharaan standar etika profesional, pendidikan dan pencapaian, dan melalui peningkatan kesejahteraan ekonomi.
  3. Menyebarkan pengetahuan farmasi dengan mengadakan pertukaran antara para apoteker rumah sakit, anggota profesi, dan spesialis yang serumpun.
  4. Memperluas dan memperkuat kemampuan apoteker rumah sakit untuk:
1)      Secara efektif mengelola suatu pelayanan farmasi yang terorganisasi.
2)      Mengembangkan dan memberikan pelayanan klinik.
3)      Melakukan dan berpartisipasi dalam penelitian klinik dan farmasi dan dalam program edukasi untuk praktisi kesehatan, penderita, mahasiswa, dan masyarakat.
  1. Membantu dalam pengembangan dan kemajuan profesi kefarmasian.

2.1. Teori Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)
Secara umum Manajemen SDM ialah suatu seni dan keahlian atau ilmu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan terhadap pelaksanaan fungsi-fungsi penghargaan atau penarikan, pengembangan, pemberian komensasi atau upah,pengintegrasian dan pemeliharaan tenaga kerja dengan maksud membantu tercapainya tujuan organisasi, individu dan masyarakat.Tenaga kerja SDM merupakan factor produksi, tidak seperti yang lain (benda mati). Manusia merupakan modal utama dalam pembangunan masyarakat.
SDM (personalia) mempunyai beberapa fungsi dan merupakan bagian fungsi menejer antara lain:
1.      Seorang menejer yang berhasil ialah menejer yang beroreantasi pada bawahan (karyawanya)
2.      Manajer ialah orang yang mempunyai keahlian untuk menggerakan orang-orang lain untuk melakukan pekerjaan tertentu dalam mnghasilkan suatu tujuan tertentu,
3.      Menurut F. W. Tailor salah satu tugas menejer ialah memilih pekerja yang baik untuk setiap tugas tertentu dan selanjutnya melatih dan mendidiknya,
4.      Menurut Konte, O Donal Vielandar fungsi menejer ialah plening, organizing, penyusunan (staffing), pengarahan (directing) dan Controling. Staffing merupakan fungsi yang berhubungan fungsi manajemen personalia dalam perusahaan, tapi juga menjadi sebagian fungsi setiap menejer, sehingga menjadi tanggung jawab perusahaan.

2.1.1. Perencanaan SDM
Ada 2 faktor yang menyebabkan dalam Perencanaan SDM:
  1. Faktor Internal
-          Adanya aggaran (modal)
-          Kegiatan baru
-          Estimasi penjualan dan produksi
-          Rencana strategi
-          Struktur organisasi dan pembagian kerja.
  1. Faktor Eksternal
-          Faktor ekonomi
-          Budaya
-          Politik
-          Teknologi
-          Perundang-undangan,
-          Pesaing.
Perencanaan SDM merupakan langkah tertentu yang di ambil oleh menejemen guna menjamin bahwa dalam perusahaan tersedia tenaga kerja yang tepat untuk menduduki berbagai kedudukan, jabatan, dan pekerjaan yang tepat dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran yang di tetapkan oleh perusahaan.
Perencaan SDM  mempunyai manfaat yaitu:
  1. Untuk mendapat tenaga kerja yang berkualitas dan bermutu sesuai dengan pekerjaanya,
  2. Produktifitas tinggi (menigkat)
  3. Perusahaan mengetahui seorang tenaga kerja yang baik.

2.1.2.      Recruitment Tenaga Kerja (SDM)
Recrutiment tenaga kerja merupakan suatu proses mencari, menentukan dan menarik para pelamar untuk di pekerjakan dalam perusahaan atau organisasi. Tujuan dari recruitment ialah untuk mendapatkan sebanyak mungkin calon pelamar sehingga perusahaan mempunyai kesempatan untuk memilih calon pekerja yang memenuhi standar kualitas pekerjaan.
Recruitment SDM bisa di lakukan dari 2 sumber, yakni:
  1. Eksternal
-          Lembaga pendidikan,
-          Badan Penempatan Tenaga Kerja,
-          Teman,
-          Iklan, dan lain-lain
  1. Internal
-          Tenaga kerja yang sudah ada.
Untuk mendapatkan tenaga baru pasti ada suatu keuntungan dan kerugiannya, Sumber tenaga kerja yang di dapat dari luar (eksternal) akan mendapatkan keuntungan antara lain; timbul ide baru, tersedia banyak jumlah pelamar, mendapatkan pegawai yang berbobot dan memenuhi syarat, dan dapat membrikan kesempatan pada masyarakat umum yang membutuhkan pekerjaan. Sumber tenaga yang di dapat dari luar (ekternal) perusahaan juga akan mendapatkan kerugian, yakni kurang praktis dan ekonomis, tidak semua kebutuhan terpenuhi, adanya kebiasaan yang kurang sesuai dengan perusahaan, realitas yang kurang dan kemungkinan belum berpengalaman.
Begitu juga recruitment yang di lakukan di dalam organisasi itu sendiri (internal) juga mempunyai keuntugan, antaranya; Mempertinggi semangat kerja pegawai (SDM), mempertinggi realitas pegawai, praktis dan ekonomis, Terjadi persaingan yang sehat dan seleksi mudah di lakukan. Dan kerugianya ialah; bila promosi tidak objektif menimbulkan rasa tidak puas dari pegawai, adanya promosi yang di paksakan, dan juga dapat menghambat ide.
2.1.3.      Pengembangan Dan Pelatihan SDM
Pengembangan ialah usaha untuk memajukan karier pengetahuan maupun kecakapan kepada tenaga kerja guna pertumbuhan yang terus menerus di dalam suatu organisasi.
Bebrapa alasan mengapa pengembangan dan pelatihan di adakan:
  1. Perubahan tujuan organisasi atau perusahaan, hal ini di pengaruhi oleh lingkungan organisasi yang dengan cepat berubah, maka apabila tidak adanya perubahan tujuan terjadi stagnasi (statis).
  2. Perubahan-perubahan factor-faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan organisasi, seperti sumber-sumber ekonomi pelaksanaan fungsi oprasi organsasi.
  3. Perubahan yang selalu ada sebagai kombinasi dari 2 perubahan di atas.
Tujuan dari pengembangan dan pelatihan ialah:
-          Menigkatkan produktivitas pegawai (SDM),
-          Menigkatkan kualitas produk pegawai,
-          Meningktkan semangat pegawai,
-          Memelihara kesehatan mental, fisik dan pegawai,
-          Meningkatkan konvensasi (upah) secara tidak langsung.
Cara yang di lakukan dalam pengembangan pegawai (SDM) ialah dengan pelatihan, mutasi, promosi dan demosi. Pelatihan adalah suatu kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan seorang pegawai dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Tujuanya ialah peserta dapat melakukan pekerjaan lebih episien, efektif dalam pengawasan dan tercipta stabilitas pegawai.
Dengan adanya pelatihan maka akan mendapatkan keuntungan baik dalam organisasi maupun bagi tenaga kerjanya (pegawai);
  1. Keuntungan pelatihan bagi organisasi, yaitu;
-          Manambah episiensi pelaksanaan kerja,
-          Meningkatkan produktivitas,
-          Hemat (mengurangi pemborosan),
-          Mengurangi kecelakaan kerja,
-          Menjaga stabilitas organisasi.
  1. Keuntungan pelatihan bagi tenaga kerja, yaitu;
-          Meningkatkan semangat dan motivasi kerja,
-          Menambah pengalaman dan keterampilan,
-          Tercipta percaya diri pegawai,
-          Adanya ketenagan kerja,
-          Memupuk solidaritas pegawai.
Cara pengembangan pegawai yang kedua ialah dengan mengadakan mutasi, yakni pemindahan pegawai dari satu jabatan ke jabatan lain baik sifat nya setaraf dengan jabatan sebelumnya, naik jabatan yang lebih tinggi, maupun turun jabatan. Alasan mengapa di adakan mutasi antara lain;
  1. Keinginan pegawai sendiri,
  2. Keinginan Perusahaan atau organisasi dengan alasan;
-          Mengembangkan pegawai,
-          Untuk menghilangkan rasa bosan dari pegawai,
-          Untuk menjaga kepercayaan pegawai terhadap perusahaan.
Tujuan dari mutasi ialah;
  1. Meningkatkan produktivitas kerja,
  2. Membina karier pegawai,
  3. Menghilangkan  rasa bosan pegawainya,
  4. Menambah tenaga ahli pada suatu bagian,
  5. Mengisi kekosongan jabatan.
Cara pengembangan yang ketiga ialah dengan mengadakan promosi, yaitu pemindahan (perubahan jabatan) seorang pegawai ke jaatan yang lebih tinggi dan bersifat mempertinngi semangat pegawai, menjamin stabilitas pegawai dan memajukan pegawai, dengan syarat antara lain;
  1. Adanya lowongan jabatan,
  2. Pegawai memenuhi persyaratan yang telah di tentukan,
  3. Pegawai lulus di seleksi.
Cara pengembangan yang keempat ialah demosi, yakni pemindahan pegawai dari satu jabatan yang lebih rendah. Hal ini di lakukan sebab ada hal-hal;
  1. Pegawai melakukan tindakan yang dapat merugikan dirinya,
  2. Pegawai mau kembali ke jabatan yang semula,
  3. Mungkin perusahaan atau organisasi mengalami krisis,
  4. Keadaan pasar tenaga kerja di mana suplay melebihi demand.


2.2.                           Teori Menejemen Farmasi
Manajemen ialah suatu proses untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan tenaga orang lain.
Fungsi-fungsi manajeman antara lain Planing, Organising, Actuating dan Controling. Dengan demikian dalam suatu manajemen berarti terdiri kumpulan beberapa ornag atau lebih yang biasa kita kenal dengan Organisasi. Dalam organisasi ada bagian-bagian yang biasa di sebut dengan Struktur Organisasi.
            Maksud dan tujuan Organisasi tersebut antara lain:
  1. Organisasi harus mempunyai tujuan,
  2. Organisasi harus ada pembagian kerja,
  3. Ada kesesuaian antara tugas, tanggung jawab atau wewenang,
  4. Melimpahkan tanggung jawab dan tugas secara tepat
  5. Menyusun organisasi dengan tata hubungan bawahan dan atasan,
  6. Pimpinan wajib mengawasi perintahnya secara organisasi,
  7. Memenuhi asas komunikasi, koordinasi, Kontinuitas, dan asas kerjasama,
  8. Langkah organisasi di lakukan kearah ketujuan.

2.2.1.      Kegiatan Manajemen(Organisasi)
1.      Masukan (input)
-          Manusia,
-          Money,
-          Material,
-          Machine.
2.      Proses
-          Perencanaan,
-          Pengorganisasian,
-          Pengawasan.
3.       Keluaran (output)
-          Produk (barang/jasa)

Memanfaatkan sumber daya untuk mencapai sasaran yang di tetapkan merupakan tugas manajemen secara umum. Pembinaan sumber daya manusia terbagi atas unsur Individu dan kelompok. Dengan meningkatkan pengetahuan keterangan sikap dalam pekerjaan dengan melakukan job training, job rotation dan planning di luar organisasi merupakan unsur manusia secara individu, dan dengan membentuk kerjasama yang efektif dengan membina kelompok yakni factor komunikasi, kerjasama dan penyelesaian konflik merupakan pembinaan unsure manusia secara kelompok.

2.2.2.      Peranan dan Lapangan Tugas Farmasi
Farmasi bisa di katakan sebagai profesi. Menurut UU Kes. No. 23, Th 1992, Tenaga kesehatan ialah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenanganuntuk melakukan upaya kesehatan. Upaya kesehatan itu sendiri ialah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang di lakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
Pekerjaan kefarmasian merupakan pembuatan termasuk pengendalian untuk kesediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyiapan dan distribusi obat, pengolahan obat, pelayanan obat atas dasar resep dokter, pelayanan informasi obat sertapengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.

2.2.3.      Peranan Apoteker di Instalasi Farmasi
Instalasi Farmasi mempunyai fungsi utama dalam pelayanan/jasa obat atas dasar resep dan pelayanan obat tanpa resep, beroreantasi pada pelanggan/pasien apakah obat yang di beirkan dapat menyembuhkan penyakit serta nefek samping.
Tanggung jawab dan tugas apoteker di Instalasi Farmasi ialahbertanggung jawab atas obat resep, dan mamapu menjelaskan tetang obat pada pelanggan/pasien. Dengan demikian biasa di ambil kesimpulan bahwa peranan penting dalam Instalasi Farmasi adalah seorang Apoteker. Apoteker adalah administrator rumah sakitdi segala persoalan tetang penggunaan obat.
Farmasi rumah sakit merupakan departemen atau servis di dalam Rumah sakit yang di pimpin oleh Apoteker. Di industri farmasi termasuk kosmetik dan obat-obat tradisional Apoteker berperan dalam 4 bidang antara lain:
  1. Bidang teknik; Apoteker Bekerja di laboratorium Quality Control dan bekerja di bidang pembuatan obat (Manufactoring)
  2. Bidang Administrasi; Pembelian bahan, Pemasaran, Dokumentasi, urusan paten dan perundangan,
  3. Bidang Modal; Refresentative, bahan kontakj antara industri farmasi dalam masalah pengobatan.
  4. Peranan Apoteker di dalam Bidang lain:
-          Pada Pedagang Besar Frmasi(PBF)
-          Bidang pemerintahan
-          Bidang militer
-          Bidang pendidikan Frmasi
-          Bidang riset farmasi.


2.3.            Teori Keunggulan Manajeman Farmasi
Instalasi Farmasi RSUD Samboja sebagai salah satu unit penunjang pendapatan, memberikan kontribusi pemasukan kurang lebih 40% dari total pendapatan rumah sakit, berasal dari pemasukan resep pasien rawat inap dan rawat jalan. Hal tersebut lebih besar daripada yang dikatakan Adi Julianto, bahwa IFRS menghasilkan kurang lebih 30% dari revenue rumah sakit.
Sumber Daya Manusia (SDM) yang bekerja di instalasi farmasi RSUD Samboja seluruhnya terdiri dari: 2 apoteker, 2 asisten apoteker, 6 reseptur, 2 tenaga administrasi, 1 juru ekspedisi, 1 pelaksana kebersihan harian. Berdasarkan studi pendahuluan, melakukan wawancara dengan Kepala Instalasi Farmasi RSUD samboja diketahui bahwa manajemen menargetkan 75% pasien rawat jalan membeli obat di IFRS.
Di instalasi Farmasi RSUD  juga sudah bekerja sama dengan PT Askes, jadi setiap pasien peserta askes yang berkunjung demi kesembuhan akan sakit yang di derita akan lebih mudah untuk kita layani dengan pembiayaan oleh PT Askes.
ISO 9001:2000 merupakan standar sistem manajemen kualitas universal yang memberikan kerangka yang sama bagi jaminan kualitas yang dapat dipergunakan di seluruh dunia. Dengan ISO 9001:2000 diharapkan organisasi pelayanan publik mampu mencapai dan mempertahankan kualitas produk yang dihasilkan guna memenuhi kebutuhan para pelanggan. Rumah Sakit Umum Daerah Samboja.
RSUD Samboja merupakan salah satu organisasi publik dalam bidang pelayanan kesehatan. RSUD Samboja telah menerapkan Sistem manajemen kualitas ISO 9001:2000. Lembaga register yang memberikan sertifikasi untuk RSUD Samboja adalah WQE Internasional. Penerapan Sistem Manajemen Kualitas dimaksudkan untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih berkualitas. Instalasi farmasi menjadi salah satu ruang lingkup pelaksanaan sistem manajemen kualitas sebagai bukti dari realisasi produk di RSUD Samboja.

2.4.            Teori Pengelolaan Farmasi/Apotek

Berdasarkan peraturan PP No.25 tahun 1980 dan Permenkes No.922/Menkes/Per/1993, Apotek ialah suatu tempat tetentu, tempat di lakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat. Apotek wajib melayani dokter, dokter gigi, dokter hewan.
Tugas dan fungsi Apotek (PP No.25 tahun 1980)
  1. Tempat pengabdian Profesi Apoteker yang telah di sumpah,
  2. Sarana farmasi yang melakukan pengubahan bentuk dan penyerahan obat atau bahan obat,
  3. Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat kepada masyarakat secara meluas dan merata.
Menurut Permenkes No.922/Menkes/Per/1993 pengelolaan apotek antara lain;
  1. Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan, untuk pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat,
  2. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan penyerahan perbekalan Farmasi lainya,
  3. Pelayanan informasi tentang;
a.       Obat dan perbekalan farmasi di berikan kepada dokter, tenaga kesehatan (masyarakat),
b.      Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai kegunaan dan khasiat keamanan bahaya serta mutu obat (Perbekalan Farmasi)
Ada 3 bidang tetang deskripsi tugas Apoteker Pengelola Apotek;
  1. Di bidang pengabdian profesi
a.       Melakukan penelitian terhadap obat
b.      Mengadakan pengontrolan terhadap bagian pembuatan,
c.       Mengadakan pengontrolan dan pengecekan terhadap pelayan atas resep,
d.      Menyelenggarakan sterilisasi,
e.       Menyelenggarakan informasi harga obat,
f.       Menyelenggarakan komunikasi.
  1. Di bidang Administrasi;
a.       Memimpin, mengatur dan mengawasi pekerjaan tata usaha, keuangan perdagangan dan statidtik,
b.      Membuat laporan,
c.       Menyelenggarakan surat menyurat,
d.      Menggunakan pengawasan dan pemeliharaan aktiva.
  1. Di bidang komersil;
a.       Merencanakan, mengatur kebutuhan barang,
b.      Mengatur, mengawasi penjualan,
c.       Menentukan kalkulasi harga dan kebijakan harga,
d.      Berusaha meningkatkan permintaan,
e.       Memupuk hubungan baik dengan langganan,
f.       Mencari langganan baru,
g.      Menentukan kepada siapa di beri kredit,
h.      Mengadakan efisiensi segala bidang. Tata ruang Apotek bisa di gambarkan di bawah ini





2.5.            Teori Permintaan Farmasi
Biaya (Cost) Dalam Usaha Farmasi
Biaya di sebut juga dengan pengorbanan, biaya lebih bersifat umum dan pengorbanan lebih bersifat khusus. Suatu nilai yang terkandung dalam aktiva tetapi kadang berarti suatu nilai yang terkandung di dalamnya di sebut biaya. Dan sesuatu yang di korbankan untuk mencapai suatu tujuan atau menghasilkan suatu penghasilan disebut pengorbanan.
Biaya terdiri dari beberapa unsur yaitu;
1.      Biaya material langsung,
2.      Biaya tenaga kerja langsung,
3.      Biaya material dan tenaga kerja tidak langsung.
Menurut macamnya biaya terdiri atas menurut jenisnya missal biaya gaji, upah dan lain-lain; menurut tempat di mana biaya itu terjadi missal biaya seksi gudang obat, administrasi dan lain-lain; menurut hubungan dengan  baraang atau jasa missal biaya material langsung, biaya tenaga kerja langsung; menurut volum aktivitas missal biaya tetap dan biaya variable.
Biaya dan pengorbanan dalam produksi obat di bagi menjadi;
1.      Bahan baku pembuatan obat,
2.      Alat produks,i
3.      Tenaga kerja ,
4.      Jasa pihak ketiga,
5.      Tanah/bagunan,
6.      Pajak.
Harga pokok obat yang sama dapat berbeda dari masing-masing produsen karena perbedaan kualitas bahan, komposisi bahan penolong, teknik pembuatan dan cara penyajian(kemasan).
Analisa system pembentukan dan tingkat harga secara umum merupakan system totalitas yang terdiri dari sebuah system yang saling berhubungan secara kompleks dan saling mempengaruhi. Secara skematis dapat di gambarkan sebagai berikut;
 
Ket:
v  Pemerintah ; Sebagai administrator juga sebagai lembaga konsultasi
v  Produsen; Turut memberikan warna dalam tingkat pembentukan harga di pasar
v  Konsumen; Baik individu atau lembaga dengan kemampuan daya beli mempengaruhi harga obat.

Untuk menghindari banyaknya obat yang harus di musnahkan karena rusak/kadaluarsa perlu mengembangkan besarnya persediaan dengan permintaan dengan sekelompok barang/pekerjaan (pengendalian persediaan barang).
Persediaan barang besarnya biasa diketahui setelah di adakan penyetokan barang setiap akhir bulan ataupun akhir tahun yang bias di sebut stok of name. Dari sinilah bias kita ketahui  seberapa lama umur obat (1 bulan, 6 bulan, 1 tahun). Bila di bandingkan hasil penyetokan dalam rupiah:
  1. Nilai > nilai kebutuhan wajar
  2. Nilai = nilai kebutuhan wajar
  3. Nilai < nilai kebutuhan wajar

Stok of name atau bisa juga kita sebut dengan Inventory Control mempunyai tujuan untuk menciptakan keseimbangan antara residen dengan permintaan . Untuk mencapai keseimbangan di tetukan;
  1. Persediaan barang di dasarkan arus kecepatan gerak/perputaran, (obat laku keras lebih banyak obat laku sedikit),
  2. Persediaan obat berdasarkan lokasi Pabrik Besar Farmasi (PBF), (Obat tersedia banyak jika lokasi PBF jauh),
  3. Penambahan persediaan obat atas kebutuhan perbulan/hasil penjualan.

Contoh;
Omzet perbulan Rp.100juta, laba bruto 23% dari obat, pembelian obat maximum 77% X 100juta=77juta.
Laba bruto;
  • Penjualan resep 90% dari omzet, indeks harga barang 1,3kali dari harga pembelian
1,3 X 0,09 = 1,17
  • Penjualan bebas 10% dari omzet, indeks barang 1,1kali harga pembelian
1,1 X 0,10 = 0,11
Indeks harga barang rata-rata = 1,17 + 0,11 = 1,28
Laba bruto = 0,28/1,28 X 100 = 21,9%
Untuk mengetahui laju arus keluar masuknya barang/obat dapat diketahui melalui;
  1. Dari PBF gudang ke apotek,
  2. Dari gudang masuk ruang racikan, atau dari apotek itu sendiri,
  3. Dari apotek atau ruang racikan ketangan konsumen.


2.5.1.                              Pengadaan/Pembelian  Barang atau Obat
Dalam pengendalian ada 2 keseimbangan;
1.      Keseimbangan total, yaitu keseimbangan antara seluruh persediaan dengan seluruh permintaan dan atau seluruh pembelian dengan seluruh penjualan secara professional,
Misal; Omzet perbulan 100juta, laba bruto 25% dari omzet pembelian obat, atau dapat di tuliskan 75% X 100juta = 75juta.
2.      Keseimbangan komposisi atau keseimbangan antara kelompok produk, yaitu kelompok produk laku keras dan lambat.
Misal; Produk yang laku keras  80% dan yang lambat 20%, maka dapat di tuliskn;
Laku keras 80% X 100juta = 80%
Laku lambat 20% X 100juta = 20juta.
System pengadaan obat-obatan di RSUD Samboja bisa di katakana baik apabila komposisi obat yang di beli sesuai kebutuhan, mampu melayani jenis obat yang di perlikan konsumen, Jumlah pembelian untuk keperluan rutin sebulan telah menujukan keseimbangan dengan penjualan secara professional. Selain itu juga pembelian obat-obatan perlu mempertimbangkan factor harga yang konpetitif, pelayanan yang cepat, dan pembelian kredit yang menguntungkan.
2.5.2.                              Penetapan Harga Obat
Harga ialah barang atau jasa yang di ukur dengan sejumlah uang yng berdasarkan nilai tersebut dan ornag atau pengusaha/perusahaan bersedia melepaskan barang atau jasa yang di milikinya kepada pihak lain. Sesuatu mempunyai harga karena ada manfaatnya dan sulit di peroleh bagi orang yang membutuhkanya. Kita kembalikan ke ilmu Ekonomi  bahwa harga, nilai dan faedah saling berkaitan. Sama halnya dengan ilmu ekonomi harga penjualan obat juga dapat di tetapkan ;
TR = P X V
TR = penghasilan total, P = harga per unit, V jumlah unit terjual
Keuntungan maximum dapat di perolah  dari membandingkan tambahan penghasilan total dengan tambahan biaya produksi dan tambahan biaya penjualan tiap unit.
Macam-macam penjualan apotek
  1. Penjualan umum/obat bebas
  2. Penjualan alat kesehata, laboratorium, bahan kimia,
  3. Penjualan kepada dokter, poliklinik dan langganan,
  4. Pemberian harga;
a.       Resep obat racikan (di buat di apotek)
b.      Resep obat jadi / generic atau non generic (di buat di pabrik)
c.       Penjualan bebas.
  1. Penunjang penjualan perlu di perhatikan; promosi ruang tunggu, lengkap di atur baik, ramah, cepat, harga tidak mahal, informasi lengkap.
Penjualan obat melalui resep dapat di gambarkan di bawah ini;




2.6.            Teori Pelayanan Farmasi
Dewasa ini masalah kesehatan telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat. Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, maka semakin meningkat pula tuntutan masyarakat akan kualitas kesehatan. Hal ini menuntut penyedia jasa pelayanan kesehatan seperti rumah sakit untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang lebih baik, tidak hanya pelayanan yang bersifat
penyembuhan penyakit tetapi juga mencakup pelayanan yang bersifat pencegahan (preventif) untuk meningkatkan kualitas hidup serta memberikan kepuasan bagi konsumen selaku pengguna jasa kesehatan (Anonim, 2004). Rumah sakit sebagai institusi yang bergerak di bidang pelayanan kasehatan mengalami perubahan, pada awal perkembangannya, rumah sakit adalah lembaga yang berfungsi sosial, tetapi dengan adanya rumah sakit swasta, menjadikan rumah sakit lebih mengacu sebagai suatu industri yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan dengan melakukan pengelolaan yang berdasar pada manajemen badan usaha. Seiring dengan itu, terjadi persaingan antara sesama rumah sakit baik rumah sakit milik pemerintah maupun rumah sakit milik swasta, semua berlomba-lomba untuk menarik konsumen agar menggunakan jasanya.
RSUD Samboja merupakan rumah sakit tipe C yang melayani dan menampung rujukan dari PUSKESMAS. RSUD Samboja merasakan persoalan yang sama dengan rumah sakit lain yaitu persaingan yang ketat. Persaingan yang terjadi tidak hanya dari sisi teknologi pemeriksaan, akan tetapi persaingan yang lebih berat yaitu persaingan dalam pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pihak rumah sakit selaku penyedia jasa dituntut memberikan pelayanan yang lebih baik dibanding rumah sakit lain untuk mencapai kepuasan pasien di rumah sakit. Salah
satu aspek yang perlu ditingkatkan kualitasnya adalah aspek pelayanan di bidang farmasi. Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk serta penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan yang telah ditetapkan (Azwar, 1996). Dua unsur penting dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan adalah tingkat kepuasan pasien sebagai pengguna jasa dan pemenuhan standar pelayanan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang standar pelayanan farmasi rumah sakit menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang
terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Tuntutan pasien akan mutu pelayanan farmasi mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari paradigma lama (Drug Oriented) ke paradigma baru (Patient Oriented) dengan filosofi pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical Care). Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaikan masalah obat serta masalah yang berhubungan dengan kesehatan
(Anonim, 2004). Pasien akan merasa puas apabila ada persamaan antara harapan dan kenyataan pelayanan kesehatan yang diperoleh. Kepuasaan pengguna pelayanan kesehatan mempunyai kaitan yang erat dengan hasil pelayanan kesehatan, baik secara medis maupun non medis seperti kepatuhan terhadap pengobatan, pemahaman terhadap informasi medis dan kelangsungan perawatan (Kotler, 1997).

2.6.1.                              Kualitas Pelayanan
Kualitas adalah keseluruhan ciri dan sifat dari suatu produk atau
pelayanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersirat (Kotler, 2005). Pengertian kualitas pelayanan bersifat multidimensional, yaitu kualitas menurut pemakai pelayanan kesehatan dan menurut penyedia jasa layanan kesehatan (Azwar, 1996):
  1. Dari segi pemakai jasa pelayanan, kualitas pelayanan terutama berhubungan dengan ketanggapan dan kemampuan petugas rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan pasar dan komunikasi pasien termasuk di dalamnya sifat ramah dan kesungguhan.
  2. Dari pihak penyedia jasa dalam hal ini rumah sakit, kualitas pelayanan terkait pada pemakaian yang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Secara umum dapat dirumuskan bahwa batasan pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta penyelenggaraannya sesuai kode etik dan standar yang talah ditetapkan (Azwar, 1996).
Kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan suatu fenomena unik, sebab dimensi dan indikatornya dapat berbeda diantara orang-orang yang terlibat dalam pelayanan kesehatan. Untuk mengatasi perbedaan dipakai suatu pedoman yaitu hakikat dasar dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan, yaitu memenuhi kebutuhan dan tuntutan para pemakai jasa pelayanan kesehatan
(Azwar, 1996).
Kualitas pelayanan di instalasi farmasi rumah sakit dapat dicapai dengan menetapkan dan mengendalikan karakteristik mutu pelayanan serta karakteristik penghantaran pelayanan. Karakteristik mutu pelayanan adalah ciri pelayanan yang dapat diidentifikasi, yang diperlukan untuk mencapai kepuasan konsumen. Ciri tersebut dapat berupa psikologis, orientasi waktu, etika dan teknologi (Siregar, 2004).
Dalam usaha meningkatkan kualitas pelayanan, perusahaan juga harus meningkatkan komitmen dan kesadaran serta kemampuan para pekerja, terutama mereka yang langsung berhubungan dengan konsumen. Meskipun sistem dan teknik kualitas sudah bagus tetapi jika orang yang melaksanakan dan alat-alat yang digunakan tidak dengan cara yang benar maka kualitas pelayanan yang diharapkan tidak akan terwujud.

2.6.2.                              Pelaksanaan Pelayanan Farmasi Klinis

Farmasi klinis menurut Clinical Resource and Audit Group diartikan sebagai disiplin kerja yang berkonsentrasi pada penerapan keahlian kefarmasian untuk membantu memaksimalkan efikasi obat dan meminimalkan toksisitas obat pada pasien yang dalam menjalankan praktek pelayanannya memerlukan pengetahuan, ketrampilan dan sikap dalam memberikan pelayanan kepada pasien (Aslam dan Tan, 2003).
Menurut Hepler dan Strand, farmasi klinis didefinisikan sebagai profesi yang bertanggung jawab terhadap terapi obat untuk tujuan mencapai pengobatan yang tepat yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien (Aslam dan Tan, 2003). Jangkauan pelayanan farmasi klinis yang dapat dilakukan sesuai SK Menkes No. 436 Menkes/SK/VI/1993, meliputi :
a. Melakukan konseling.
b. Monitoring efek samping obat.
c. Pencampuran obat suntik secara aseptik.
d. Menganalisis efektifitas biaya.
e. Penentuan kadar obat dalam darah.
f. Penanganan obat sitostatika.
g. Penyiapan total parenteral nutrisi.
h. Pemantauan penggunaan obat.
i. Pengkajian penggunaan obat.
Dewasa ini masalah kesehatan telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat. Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, maka semakin meningkat pula tuntutan masyarakat akan kualitas kesehatan. Hal ini menuntut penyedia jasa pelayanan kesehatan seperti rumah sakit untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang lebih baik, tidak hanya pelayanan yang bersifat penyembuhan penyakit tetapi juga mencakup pelayanan yang bersifat pencegahan (preventif) untuk meningkatkan kualitas hidup serta memberikan kepuasan bagi konsumen selaku pengguna jasa kesehatan (Anonim, 2004).
Rumah sakit sebagai institusi yang bergerak di bidang pelayanan kasehatan mengalami perubahan, pada awal perkembangannya, rumah sakit adalah lembaga yang berfungsi sosial, tetapi dengan adanya rumah sakit swasta, menjadikan rumah sakit lebih mengacu sebagai suatu industri yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan dengan melakukan pengelolaan yang berdasar pada manajemen badan usaha. Seiring dengan itu, terjadi persaingan antara sesama rumah sakit baik rumah sakit milik pemerintah maupun rumah sakit milik
swasta, semua berlomba-lomba untuk menarik konsumen agar menggunakan jasanya.
2.7.                  Variabel-variabel yang Mempengaruhi SDM Manajemen Farmasi

Pembahasan ini menjelaskan variabel-variabel yang mempengaruhi tingkat kinerja manajemen SDM terhadap pelayanan.

2.7.1.   Hubungan Manajemen SDM  di Intstalai Farmasi
Menurut Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan alat Kesehatan DEPKES RI dalam perbaikan pelayanan farmasi komunitas sebenarnya masalahnya tidak cukup membina apoteker saja, tapi tersangkut juga pihak-pihak lain seperti pemilik sarana dan profesi lain yang ikut melakukan pelayanan kefarmasian.  Sebaik apapun system kalau manusianya tidak mau menggerakkan sistem itu maka hasilnya tetap tidak memuaskan. Sistem hanyalah suatu alat untuk mencapai tujuan tinggal bagaimana kita menggunakan alat itu. Memang terkandung maksud, dan sekarang sudah ada Peraturan Pemerintah tentang Pekerjaan Kefarmasian.. Dalam draft PP tersebut khususnya dalam perizinan Apotik tidak menyinggung PSA karena izin Apotik merupakan izin praktek Apoteker . Tetapi apakah pelayanan kefarmasian di Apotik akan berjalan seperti yang disebut dalam PP , akan kembali lagi kepada kemauan
Apoteker untuk melakukannya. Seindah dan sebagus apapun peraturan yang dibuat hanyalah tetap sebagai alat / sarana saja. Peraturan itu tidak dapat berjalan sendiri tanpa pelakuknya yaitu APOTEKER.
Keberhasilan atau tidaknya bekerja di Instalasi farmasi sumbernya ialah dari manajemen itu sendiri. Yang dapat mempengaruhi kinerja di Instalasi Farmasi kemungkinan besar adalah pada SDM karena kurangnya masalah pendidikan, Kurangya keterampilan, kurang pengembangan, kurangnya pelatihan, kurang adanya motivasi pegawai yang dapat memberikan smangat, kurangya system dan lain-lain yang dapat berpengaruh terhadap kinerja di Instalasi Farmasi.

2.7.2.      Hubungan Antara Manajemen SDM dengan pelayanan Farmasi
Farmasi klinis/pelayanan menurut Clinical Resource and Audit Group diartikan sebagai disiplin kerja yang berkonsentrasi pada penerapan keahlian kefarmasian untuk membantu memaksimalkan efikasi obat dan meminimalkan toksisitas obat pada pasien yang dalam menjalankan praktek pelayanannya memerlukan pengetahuan, ketrampilan dan sikap dalam memberikan pelayanan kepada pasien (Aslam dan Tan, 2003). Tingkat kualitas pelayanan tidak dapat dinilai berdasar sudut pandang penyedia jasa akan tetapi harus dipandang dari sudut pandang konsumen. Banyak penyedia jasa gagal dalam memberikan kepuasan terhadap kosumennya yang disebabkan terjadinya kesenjangan kepentingan diantara keduanya (Kotler, 1997). Pengukuran tingkat kepuasan konsumen erat hubungannya dengan mutu produk barang atau jasa. Pengukuran aspek mutu bermanfaat bagi pengelola jasa, yaitu (Supranto, 1997):
2.            Mengetahui dengan baik bagaimana jalannya atau bekerjanya proses pelayanan jasa.
3.            Mengetahui dimana harus melakukan perubahan dalam upaya melakukan perbaikan secara terus menerus untuk memuaskan konsumen terutama untuk hal-hal yang dianggap penting oleh konsumen.
4.            Menentukan apakah perubahan yang dilakukan mengarah ke perbaikan atau tidak (improvement).
Kepuasan konsumen harus diperhatikan penyedia jasa, konsumen yang tidak puas akan meninggalkan penyedia jasa dan akan beralih ke penyedia jasa lain yang dapat memberikan pelayanan yang lebih baik sehingga konsumen akan merasa lebih puas. Makin banyak konsumen yang beralih menggunakan jasa di tempat lain maka menjadi indikasi terjadinya penurunan kualitas pelayanan penyedia jasa (Supranto, 1997).
            Kurangnya ramah tamah dalam pelayanan akan mempengaruhi mitra SDM di Instalasi Farmasi,  sangatlah penting seseorang yang bekerja di bidang pelayanan untuk dapat bersifat ramah tamah terhadap pelanggan/konsumen.

2.8.      Hipotesis
Hipotesis ialah dugaan sementara yang masih perlu pembuktian selanjutnya, atau pernyataan tentative yang merupakan dugaan mengenai apa saja yang sedang kita amati dalam usaha untuk memahaminya.
            Hipotesis dapat di turunkan dari teori yang berkaitan dengan masalah yang akan kita teliti. Ada 2 masalah yang akan kita kaji dalam skripsi ini;
  1. Masalah tentang pengaruh SDM di dalam Instalasi RSUD Samboja, Biasanya dalam hal ini yang akan kita kaji mengenai tingkat pendidikan. Seberapa kemampuan seseorang melakukan pekerjaanya/job sebagai pegawai di instalasi tempat ia bekerja?; Apabila seseorang tingkat pendidikanya hanya sebatas SLTA saja mampukah seseorang tersebut melakukan job dari yang di miliki oleh yang tingkat pendidikanya D3 atau S1?; Untuk mendapatkan jwaban apakah benar atau salah kita dapat menggunakan skala pengukuran uji coba tentang kesepakatan, (bisa di lihat di bawah/kala pengukuran).
  2. Masalah yang berhubungan dengan pelayanan (pelanggan/pasien).
Akan ada beberapa pertanyaan kepada pihak intern maupun ekstern dari peneliti tentang bagaimana SDM yang telah menjalankan tugasnya sebagai tenaga jasa pelayanan di IFRSUD Samboja. Dengan demikian akan timbul jawaban-jawaban dari beberapa pertanyaan tersebut, yang kemudian akan di kaji dan di teliti dan di buktikan secara empiris sehingga akan menghasilkan data yang akurat.
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.
2.8.1. Skala Likert
Digunakan untuk mengukur sikap, pendapat danpersepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena. Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Untuk keperluan analsisi kuantitatif, jawaban itu dapat diberi skor (1 – 5 atau disesuaikan dengan kebutuhan).
Contoh bentuk checklist
SS Sangat setuju skor 5
ST Setuju skor 4
RG ragu-ragu skor 3
TS Tidak setuju skor 2
STS Sangat Tidak setuju skor 1
2.8.2. Guttman
Dengan skala ini, akan diperoleh jawaban yang tegas yaitu Ya - Tidak, Benar - Salah dan lain-lain. Penelitian menggunakan skala Gutman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
Skala ini dapat pula dibentuk dalam bentuk checklist atau pilihan ganda. 
Analisa dengan menggunakan rumus dengan diketahui
Berdasarkan hal diatas, merujuk pada skala Gutman :
a. Bila jawaban “ya” =  2
b. Bila jawaban “tidak”     =   1
Jumlah pertanyaan = x pertanyaan
Jawaban tertinggi berbobot 2 dan terendah berbobot 1
Skor  bobot tertinggi   =  Jumlah pertanyaan kali bobot tertinggi                  
Skor Terendah =  jumlah pertanyaan kali bobot terendah
Skor antara      =  skor tertinggi – skor terendah
Kriteria objektif sebanyak 2 kategori : bermanfaat dan tidak bermanfaat
Interval            =  skor antara/ jumlah kategori
Skor standar    = % skor tertinggi - % interval
Sehingga kriteria dapat dikatakan dengan
Bermanfaat     =  bila jawaban responden > skor standar
Tidak bermanfaat        =  bila jawaban responden < skor standar
(Sugiyono, 2000).

2.8.3. Semantic Deferential 
Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawabannya sangat positifnya terletak dikanan garis, dan jawaban yang sangat negatif terletak dibagian kiri garis atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval dan baisanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.
Responden dapat memberi jawaban pada rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif.
2.8.4.  Rating Scale
Rating scale, data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.Responden menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju adalah merupakan data kualitatif. Dalam skala ini responden tidak menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang disediakan, tetapi mejawab salah atau dari jawaban kuantitatif yang telah di sediakan.





KERANGKA KONSEP
1. Kerangka konsep penelitian

Text Box: I
F
R
S







Keterangan
               Diteliti
                Tidak Diteliti








BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Dan Sumber Data
Jenis dari penelitian ini adalah penelitian deskriftif yakni penelitian yang bermaksud untuk mendeskripsikan situasi atau kejadian tertentu yang terkait dengan Pengaruh SDM dalam pelayanan farmasi di RSUD ABADI samboja.
3.1.1. Lokasi dan waktu penelitian.
Penelitian ini dilakukan di RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti Samboja pada bagian unit Farmasi, unit poliklinik dan unit gawat darurat yang dilakukan selama kurang lebih 1 minggu.
3.1.2. Populasi dan sampel
Populasi penelitian ini adalah semua petugas pelayanan di unit instalasi farmasi, unit poliklinik dan unit gawat darurat berjumlah 25 orang. Sampel yang digunakan adalah 25 orang
3.1.3. Cara pengambilan sampel
Sampel dilakukan terhadap total populasi

3.1.4. Instrumen Penelitian
No
Variabel
Instrumen
1.
Kecepatan Pelayanan
Kuisioner
2.
Akurasi pelayanan
Kuisioner
3.
Integrasi data
Kuisioner
4.
Kemudahan pelaporan
Kuisioner

3.1.5.      Variabel penelitian
Tingkat pendidikan dan keterampilan dengan indikator :
a.       Kecepatan pelayanan
b.      Akurasi pelayanan
c.       Integrasi data
d.      Kemudahan pelaporan

3.1.6.      Definisi operasional dan kriteria objektif
1.      Kecepatan pelayanan adalah kemampuan dari SDM dalam mempermudah penyelesaian administrasi sehingga berpengaruh terhadap kecepatan pelayanan. Penilaian dilakukan dengan menggunakan kuisioner dengan kriteria ditetapkan pada persentasi jawaban responden. Skor kecepatan pelayanan ini di kategorikan menurut bermanfaat dan tidak bermanfaat dengan kriteria obyektif : Berdasarkan hal diatas, merujuk pada skala Gutman :
Bila jawaban “ya”            =          2
Bila jawaban “tidak”       =          1
Jumlah pertanyaan           =  4 Pertanyaan
Jawaban tertinggi berbobot 2 dan terendah berbobot 1
Skor tertinggi       =  jumlah pertanyaan kali bobot tertinggi
                             =  5 x 2 = 10 è (100%)
Skor Terendah =  jumlah pertanyaan kali bobot terendah
                             =  5 x 1 = 5 è (50%)
                    Skor antara          =  skor tertinggi – skor terendah
                             =  100% - 50%
                             =  50%
Kriteria objektif sebanyak 2 kategori, bermanfaat dan tidak bermanfaat Interval           =  skor antara/kategori
                 =  50%/2
                 =  25%
Skor standar        =  100% - 25%
                             =  75%
Sehingga
Bermanfaat                      =  bila jawaban responden > 75%
Tidak Bermanfaat            =  bila jawaban responden < 75%
(Sugiyono, 2000).
2.      Akurasi pelayanan adalah kemampuan SDM RS mengelompokkan dan menyimpan jenis data pasien dan mencegah terjadinya duplikasi data untuk transaksi-transaksi tertentu. Penilaian dilakukan dengan menggunakan kuisioner dengan kriteria ditetapkan pada persentasi jawaban responden. Skor akurasi pelayanan ini di kategorikan menurut bermanfaat dan tidak bermanfaat dengan kriteria obyektif :
3.      Berdasarkan hal diatas, merujuk pada skala Gutman :
Bila jawaban “ya”          =          2
Bila jawaban “tidak”      =          1
Jumlah pertanyaan         =  4 Pertanyaan
Jawaban tertinggi berbobot 2 dan terendah berbobot 1
Skor tertinggi     =  jumlah pertanyaan kali bobot tertinggi
                           =  4 x 2 = 8 è (100%)
Skor Terendah =  jumlah pertanyaan kali bobot terendah
                           =  4 x 1 = 4 è (50%)
Skor antara         =  skor tertinggi – skor terendah
                           =  100% - 50%
                           =  50%
Kriteria objektif sebanyak 2 kategori : bermnafaat dan tidak bermanfaat
Interval   =  skor antara/kategori
                           =  50%/2
                           =  25%
Skor standar       =  100% - 25%
                           =  75%
Sehingga
Bermanfaat                    =  bila jawaban responden > 75%
Tidak Bermanfaat          =  bila jawaban responden < 75%
(Sugiyono, 2000).
4.         Integrasi data adalah kemampuan SDM RS dalam menggabungkan data dari berbagai sumber dan dapat dimanfaatkan oleh unit-unit terkait. Penilaian dilakukan dengan menggunakan kuisioner dengan kriteria ditetapkan pada persentasi jawaban responden. Skor integrasi data ini di kategorikan menurut bermanfaat dan tidak bermanfaat dengan kriteria obyektif :
Berdasarkan hal diatas, merujuk pada skala Gutman :
Bila jawaban “ya”         =          2
Bila jawaban “tidak”    =          1
Jumlah pertanyaan        =  4 Pertanyaan
Jawaban tertinggi berbobot 2 dan terendah berbobot 1
Skor tertinggi    =  jumlah pertanyaan kali bobot tertinggi
                          =  4 x 2 = 8 è (100%)
Skor Terendah =  jumlah pertanyaan kali bobot terendah
                          =  4 x 1 = 4 è (50%)
Skor antara       =  skor tertinggi – skor terendah
                          =  100% - 50%
                          =  50%
Kriteria objektif sebanyak 2 kategori : bermanfaat dan tidak bermanfaat
Interval =  skor antara/kategori
                          =  50%/2
                          =  25%
Skor standar     =  100% - 25%
                          =  75%
Sehingga
Bermanfaat                   =  bila jawaban responden > 75%
Tidak Bermanfaat         =  bila jawaban responden < 75%
(Sugiyono, 2000).
5. Kemudahan pelaporan adalah kemampuan SDM RS menyediakan laporan informasi dan data secara periodik. Penilaian dilakukan dengan menggunakan kuisioner dengan kriteria ditetapkan pada persentasi jawaban responden. Skor kemudahan pelaporan ini di kategorikan menurut bermanfaat dan tidak bermanfaat dengan kriteria obyektif :
Berdasarkan hal diatas, merujuk pada skala Gutman :
a.     Bila jawaban “ya”                =          2
b.     Bila jawaban “tidak”            =          1
Jumlah pertanyaan           =  4 Pertanyaan
Jawaban tertinggi berbobot 2 dan terendah berbobot 1
Skor tertinggi       =  jumlah pertanyaan kali bobot tertinggi
                             =  4 x 2 = 8 è (100%)
Skor Terendah =  jumlah pertanyaan kali bobot terendah
                             =  4 x 1 = 4 è (50%)
Skor antara          =  skor tertinggi – skor terendah
                             =  100% - 50%
                             =  50%
        Kriteria objektif sebanyak 2 kategori : bermanfaat dan tidak  bermanfaat
                    Interval    =  skor antara/kategori
                             =  50%/2
                             =  25%
Skor standar        =  100% - 25%
                             =  75%
Sehingga
Bermanfaat                      =  bila jawaban responden > 75%
Tidak Bermanfaat            =  bila jawaban responden < 75%
(Sugiyono, 2000).

3.1.7.  Teknik pengumpulan Data.
            Pengumpulan data berdasarkan data primer yang diperoleh dari hasil penyebaran kuisioner yang diisi oleh responden. penilaian yang diberikan oleh responden didasarkan pada skala Guttman dengan memuat alternatif jawaban ya atau tidak.


3.2. Metode Analisa Data
Data yang telah diperoleh akan diolah dengan menggunakan perangkat software SPSS dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Editing, Meneliti kelengkapan, kejelasan, konsistensi, kesinambungan dan keragaman data.
2.      Koding, Mengklasifikasikan jawaban dan hasil pengukuran dan melakukan pengkodean data untuk untuk memudahkan dalam pengolahan data.
3.      Entri Data, Memasukkan data yang telah diperoleh dengan menggunakan fasilitas komputer.
Data yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi yang kemudian dianalisis secara deskriftif dengan menggunakan prosentase.



3.2.1. Jadwal Penelitian





No
Kegiatan
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
1
Persiapan Proposal
X





2
Pembuatan Proposal

X




3
Seminar Proposal


X



4
Perizinan Penelitian


X



.5
Pelaksanaan Penelitian


X
X


6
Pengolahan Data



X
X

7
Seminar Hasil



X
X
X
8
Ujian Skripsi





X











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar